Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

09 April 2019

Estetika dan Seni

Sore sampai malam ini saya bantu dosen MK Pengantar Estetika dan Seni UPH mengadakan Gladi Resik alias persiapan Pementasan Akhir yang dinilai sbg Ujian Akhir Semester. Mata kuliah ini merupakan bagian dari usaha UPH mewujudkan pendidikan holistik bagi mahasiswanya.
Penting gak sih belajar seni? Ada pendapat belajar seni mengaktifkan otak kanan, sisi kreativitas manusia. Ada pula pendapat hal ini untuk menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan yang bersifat eksakta dengan seni yang pakai perasaan. Apapun alasannya, setiap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini akan mendapatkan sebuah pengalaman yang luar biasa.
Mereka belajar make up karakter, belajar tari/dance, belajar membuat film, dan lain-lain.
Sayangnya kali ini adalah semester terakhir diselenggarakannya mata kuliah Pengantar Estetika dan Seni. UPH akan membuat perubahan signifikan pada mata kuliah pilihan, entah nantinya jadi seperti apa.
Saya bersyukur pernah mengambil bagian dalam pelaksanaan mata kuliah ini. Lusa adalah Pementasan Akhir, wah campur aduk rasanya hati ini. Dan pastinya terlebih lagi perasaan pak Ganda, dosen pengampunya...
T_T       sedih

07 September 2018

Utameha

Sampai di rumah pulang dari kerja, Bhima dan mbahnya gak keliatan di ruang TV, padahal biasanya mereka nonton. Ternyata mereka lagi...
BELAJAR!
❤❤❤
Selepas Asian Games 2018, banyak orang memuji para peraih medali emas. Antara lain dengan frase "usaha tak mengkhianati hasil" artinya kalau kita berusaha, kerja keras, hasilnya pun akan baik.
UTAMEHA. Usaha TAk MEngkhianati HAsil.
Semoga kau mencapai cita-citamu ya, nak. 10-11 tahun lagi Bapak dan Ibu melepasmu berangkat ke Australia, setelah kamu diterima studi menjadi Pilot di Qantas Pilot Academy.
Sesungguhnya, Bapak mengetik ini dengan bergetar, karena cita-citamu yang tinggi itu.
Percayalah, TUHAN yang merancang masa depanmu dan bersama Dia tidak ada yang mustahil. Amin!

05 April 2017

Boleh, Boleh, Jangan

Mengajar itu belajar. Memang betul, sebagai orang tua aku berusaha mengajar anakku dan dari situ seringkali muncul pencerahan yang tiba-tiba bisa dipakai untuk mengajar anakku, dan juga aku sendiri belajar dari situ.
Pagi ini Bhima susah sekali dibangunkan, sampai tiga kali aku keluar masuk kamarnya membangunkan dia. Biasanya dihitung satu sampai sepuluh, ia bangun di hitungan delapan atau sembilan. Tapi hari ini aku tidak mau marah-marah, dan aku tahu Bhima pun tidak suka dimarahi. Makanya aku berusaha secara halus membangunkan dia, lalu ketika dia belum mau bangun, aku keluar pakai kemeja kerja, menyiapkan makan siang, sarapan, dan seterusnya yang biasa dikerjakan pagi-pagi.
Terakhir aku masuk kamarnya, Bhima mengulet dan berkata, "Aku capek..." sebagai alasan dia tidak mau bangun pagi. Kukatakan, "Nak, kamu boleh capek. Kamu juga boleh sakit (ini juga kadang digunakan sebagai alasan). Tapi, jangan malas. Malas itu penyakit dalam hidup."
  • Boleh capek
  • Boleh sakit
  • Jangan malas
Aku tertegun, dalam hatiku aku kagum dan heran akan ucapan yang keluar dari mulutku sendiri. Aku percaya Roh Kudus berkata-kata melalui hati nuraniku, sebuah pembelajaran dan pengingat untuk kami berdua.
Setelah Bhima bangun, kutuntun dia masuk kamar mandi sambil bincang-bincang. Rutinitas pagi ini pun dimulai dengan sukacita dan kekaguman.

19 November 2016

Jangan Pukul


Bhima sudah kelas 1 SD. Belum lama ini waktu bermain Bhima didorong temannya sampai kakinya terantuk tangga dan luka di dua bagian. Anak yang mendorongnya biasanya kalem. Mbahnya juga bilang bahwa gaya bermainnya Bhima dan teman-teman adalah saling dorong. Sedih juga melihat kondisi seperti ini.
Tapi aku harus berbuat sesuatu.
Bhima mulai diperkenalkan dengan bela diri.
Dalam bela diri, dilatih kuda-kuda. Dengan kuda-kuda yang benar, tidak mudah jatuh.
Selain itu, dengan berlatih bela diri di bawah sadar kita mempunyai pengenalan yang lebih baik tentang diri kita sendiri.
Aku mau memperkenalkannya pada Aikido, ah tapi rasanya kok usia 6 tahun itu masih terlalu muda. Maka aku tidak memasukkan Bhima di les aikido, tapi memperkenalkan hal-hal yang praktis dapat digunakan.
Ikkyo, nikkyo, sankyo. Tiga bentuk kuncian dasar dalam Aikido tadi dipelajari sambil main gulat, sebelum mandi. Hari Sabtu seperti ini memang ideal untuk berkomunikasi dan beraktivitas bersama keluarga.
Bhi, kalau ada temanmu pukul kamu, jangan balas memukul. Meskipun kamu dipukul duluan, bisa saja kamu disalahin, karena kamu juga memukul. Tapi kalau kamu melakukan kuncian sambil bilang, "Tolong jangan pukul aku ya. Aku tidak suka kamu pukul aku. Rasanya sakit kalau dipukul."
Kamu tidak tahu namanya, tidak masalah. Ini tipsnya, pegang di sini dan di situ. Jangan terlalu ke sini. Yak, pas di situ. Jauhkan ke situ, karena kalau dekat dia mudah lepas. Jangan sekadar bentuknya seperti itu, tapi rasakan kunciannya masuk atau tidak. Nih, contohnya... Waktu Bhima aku kunci dan tidak bisa melepaskan diri, dia mengaduh sambil ketawa-ketiwi. Persis waktu aku kecil, ketawa-ketiwi itu tandanya kagum dengan apa yang diajarkan. Mulai dari kagum muncul ketertarikan, semoga ia tekun mendalaminya dan mampu menggunakannya di saat ketika diperlukan.

13 April 2016

Alternatif

Pagi ini sambil berangkat sekolah, Bhima belajar tentang alternatif. Alternatif itu artinya yang lain. Contohnya Bhima biasa ke sekolah lewat depan komplek, tapi hari itu jalan ditutup karena ada acara, lalu gimana? Kita bisa lewat Bonjol, jalan alternatif, jalan yang lain.
Setelah diberikan beberapa contoh sederhana, mulailah Bhima mengembangkan sendiri beberapa alternatif untuk suatu masalah. Bhima biasa diantar sekolah naik motor, tapi ternyata motor bapak habis bensin gak bisa jalan, lalu gimana? Alternatifnya naik mobil. Betul! Ehhh tapi ternyata ban mobilnya kempes, lalu gimana? Naik sepeda. Betul! Tapi ban sepedanya juga kempes, lalu gimana? Jalan kaki, hihi. Mungkin dia sambil  membayangkan jalan kaki ke sekolah yang pastinya lumayan melelahkan (mungkin sekitar 20-30 menit).
Bapak juga tegaskan kenapa kita mencari alternatif, yaitu supaya kita mencapai tujuan. Di contoh tadi tujuannya apa? Mencapai ke sekolah.
Lalu Bhima ketawa-ketawa bahagia, sepertinya dia paham yang kuajarkan, kubiarkan imajinasinya berlari sendiri, dia mulai merapal penggalan kalimat dan lagu-lagu yang biasa ia tonton di youtube.

Aku mau Bhima mengembangkan kreativitasnya. Dalam hidup, kehabisan pilihan/alternatif berarti mati.

08 April 2016

Terbuka dan Terluka

Dalam acara "Pembinaan Penginjilan Kreatif" yang dibawakan Bpk. Satriyo Harefa tgl 2 April 2016 lalu dibahas bahwa keterlibatan jemaat dalam persekutuan gereja membutuhkan sikap terbuka, dan perlu disadari bahwa akan ada dampaknya yaitu kemungkinan terluka.
Begitu juga dengan menulis blog. Menulis itu membuka pikiran kita. Kalau setelah membaca lalu pembaca menganggap penulis itu bodoh, ya itulah resikonya. Tanpa membuka pikiran kita pada publik, publik tidak tahu bagaimana pola berpikir kita, tidak tahu kualitas pemikiran kita. Bisa disangka hebat, mungkin karena penampilannya meyakinkan; atau sebaliknya.
Entah aku pernah baca dimana, ada yang ekstrim mengatakan bahwa menulis itu menelanjangi diri. Meski bisa saja kita memakeup sedemikian rupa tulisan seakan-akan cerdas meski mungkin aslinya tidak, maka berlakulah "you can fool some people some time but you can't fool all the people all the time" maksudnya gak mungkin penulis yang gak orisinil itu akan secara konsisten membuat tulisan yang "bagus" karena dimakeup.
Sebagai self reminder, aku harus terus membuka pikiran dan menulis dalam rangka belajar dan meningkatkan kemampuan diri; tapi di sisi lain harus siap terluka jika ada komentar miring atau jika buah pemikiranku membuat orang menjauhi atau membenciku. Bagaimanapun cita-citaku adalah supaya tulisan buah pemikiran ini menjadi bermanfaat atau menginspirasi siapapun yang membacanya.

04 April 2016

Ada Waktu

Pagi ini sambil berangkat sekolah, Bhima belajar tentang ada waktu untuk segala sesuatu.
Pengajaran ini berdasar kitab Pengkotbah pasal 3 tapi tentu gak letterlijk sesuai teks di Alkitab.
Obrolannya dikontekstualisasi dengan kondisi Bhima yang anak TK usia 5 tahun.
Ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk bermain.
Ada waktu untuk bangun, ada waktu untuk tidur.
Ada waktu untuk bicara, ada waktu untuk diam.
Seterusnya Bhima meneruskan sendiri.. Makan, tidur siang, berdoa, main skate (kebetulan kemarin diajak ke Scientia Square Park main skate, panjat dinding, dll)
Sesudah itu Bhima juga belajar bahwa dalam sehari Tuhan memberikan waktu yang sama untuk semua orang, Bapak kasih tahu Bhima bahwa dalam 1 hari ada 24 jam. Kita harus memanfaatkan dengan sebaik mungkin waktu yang ada supaya hasilnya juga baik.
Senangnya bisa belajar bersama anakku :)

29 Januari 2016

Belajar dari Masalah

Siang tadi ketemu sama mas Agung dari www.bimbelwirausaha.com. Sama dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya, tadi belajar tentang wirausaha.

No WA Tiyo

Halo! Posting ini saya buat karena saat chatting di Marketplace seperti Tokopedia dan Shopee tidak boleh mengirim no kontak HP/WhatsApp. Jad...