12 Maret 2020
Hebohnya Covid19
Perhatian seluruh dunia hari-hari ini ke wabah Corona
Corona kemudian dikenal dengan Covid-19 atau Covid19.
WHO menetapkan Covid19 jadi wabah internasional.
Infotainment menyiarkan tokoh-tokoh terkenal yang terpapar.
Di Italia sudah terpapar lebih dari 10.000.
Di Korea Selatan juga sudah ribuan.
Di Singapura negara tetangga sudah ratusan.
Di Indonesia sudah lebih dari 20 orang.
Tapi entah kenapa Pemerintah Indonesia tak juga mengumumkan status siaga.
Banyak yang tiba-tiba jadi expert.
Keyboard warrior bertebaran.
Banyak yang paranoid tingkat tinggi.
Emosi jalan duluan daripada rasio.
Banyak tindakan pencegahan dilakukan.
Gereja mengadakan rapat.
Memutuskan mengurangi kontak fisik.
Memutuskan salam diganti namaste.
Meneruskan info-info tentang Covid19.
Menyediakan cairan hand sanitizer.
Beli hand sanitizer dalam jumlah banyak.
Gue juga yang bantu beliin.
Chapel di kantor tidak diadakan bersama-sama di ruang aula besar.
Tiap unit mengadakan masing-masing.
Kotbah diawali dengan "Jangan khawatir berlebihan."
Pesannya bagus, tapi sayang tidak sesuai dengan aksinya.
05 April 2017
Boleh, Boleh, Jangan
Pagi ini Bhima susah sekali dibangunkan, sampai tiga kali aku keluar masuk kamarnya membangunkan dia. Biasanya dihitung satu sampai sepuluh, ia bangun di hitungan delapan atau sembilan. Tapi hari ini aku tidak mau marah-marah, dan aku tahu Bhima pun tidak suka dimarahi. Makanya aku berusaha secara halus membangunkan dia, lalu ketika dia belum mau bangun, aku keluar pakai kemeja kerja, menyiapkan makan siang, sarapan, dan seterusnya yang biasa dikerjakan pagi-pagi.
Terakhir aku masuk kamarnya, Bhima mengulet dan berkata, "Aku capek..." sebagai alasan dia tidak mau bangun pagi. Kukatakan, "Nak, kamu boleh capek. Kamu juga boleh sakit (ini juga kadang digunakan sebagai alasan). Tapi, jangan malas. Malas itu penyakit dalam hidup."
- Boleh capek
- Boleh sakit
- Jangan malas
Setelah Bhima bangun, kutuntun dia masuk kamar mandi sambil bincang-bincang. Rutinitas pagi ini pun dimulai dengan sukacita dan kekaguman.
18 Januari 2017
Tujuh Tahun
Ada saatnya saya merasa minder dengan kesaksian orang-orang yang hapal tanggal berapa ia bertobat dan menyerahkan hidupnya bagi Tuhan, bukan cuma itu Tuhan melakukan ada peristiwa ajaib yang dramatis dan luar biasa dalam hidupnya. Sementara, saya dari sejak di perut ibunda sudah kristen, dari usia dini sekolah minggu, kebaktian remaja, pemuda, sampai dewasa gini gak pernah tuh melihat mujizat..
Kemudian Tuhan mengungkapkan bahwa Ia memanggil orang-orang pilihanNya tidak selalu dengan cara-cara yang bombastis, bahkan di Alkitab ditulis, "Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya." Di Alkitab konteksnya adalah melihat Yesus secara fisik, tapi di hidup kita bisa juga manifestasi Yesus yang Ilahi dalam bentuk mujizat.
Mama saya mengatakan bahwa ia mau menyaksikan kebaikan Allah dalam hidupnya bukan karena Allah sudah menyembuhkan penyakit gula, darah tinggi, ginjal, jantung dll yang dideritanya selama puluhan tahun; tapi justru karena Mama tetap percaya pada Allah dan tetap merasakan kasihNya meskipun dalam kondisi sakit.
Tujuh tahun lalu Mama sudah disembuhkan kekal dan dipanggil pulang ke rumah Bapa di sorga. Kami bersyukur Mama telah dilepaskan dari semua sakit penyakit dan malaikat di sorga bersorak menyambut Mama yang telah mengakhir pertandingan yang baik.
Tiyo
18 Jan 2017
07 April 2016
No WA Tiyo
Halo! Posting ini saya buat karena saat chatting di Marketplace seperti Tokopedia dan Shopee tidak boleh mengirim no kontak HP/WhatsApp. Jad...
-
Kenangan adalah bagian integral dari perjalanan pendidikan kita. Dari berbagi tawa dengan teman-teman sekelas, sampai penyelesaian studi dan...

