Terbuka dan Terluka

Dalam acara "Pembinaan Penginjilan Kreatif" yang dibawakan Bpk. Satriyo Harefa tgl 2 April 2016 lalu dibahas bahwa keterlibatan jemaat dalam persekutuan gereja membutuhkan sikap terbuka, dan perlu disadari bahwa akan ada dampaknya yaitu kemungkinan terluka.
Begitu juga dengan menulis blog. Menulis itu membuka pikiran kita. Kalau setelah membaca lalu pembaca menganggap penulis itu bodoh, ya itulah resikonya. Tanpa membuka pikiran kita pada publik, publik tidak tahu bagaimana pola berpikir kita, tidak tahu kualitas pemikiran kita. Bisa disangka hebat, mungkin karena penampilannya meyakinkan; atau sebaliknya.
Entah aku pernah baca dimana, ada yang ekstrim mengatakan bahwa menulis itu menelanjangi diri. Meski bisa saja kita memakeup sedemikian rupa tulisan seakan-akan cerdas meski mungkin aslinya tidak, maka berlakulah "you can fool some people some time but you can't fool all the people all the time" maksudnya gak mungkin penulis yang gak orisinil itu akan secara konsisten membuat tulisan yang "bagus" karena dimakeup.
Sebagai self reminder, aku harus terus membuka pikiran dan menulis dalam rangka belajar dan meningkatkan kemampuan diri; tapi di sisi lain harus siap terluka jika ada komentar miring atau jika buah pemikiranku membuat orang menjauhi atau membenciku. Bagaimanapun cita-citaku adalah supaya tulisan buah pemikiran ini menjadi bermanfaat atau menginspirasi siapapun yang membacanya.

Comments