Pulang sekolah hari ini, Bhima bilang, "Aku mau pacaran sama Adisti"
Kali ini sudah gak kaget karena kali ini bilangnya 'cuma' pacaran. Sebelumnya Bhima pernah bilang mau nikah sama Maris, Retha, dan pernah sebut nama beberapa gadis lain.
"Kenapa kok mau pacaran sama Adisti? Emang dia baik?"
"Iya dia baik.. *senyum*"
Aku gak begitu ingat dulu awal 80an pergaulan anak2 TK seperti apa, tapi rasanya gak pernah bicarain soal pacaran, apalagi menikah. Seingatku waktu SD pas sudah ada rasa 'kesetrum' saat tak sengaja adu mata dengan seorang gadis yang cantik, topik-topik seputar suka dengan si dia, pacaran, malah justru dihindari.
Balik lagi ke Bhima saat pertama kali dengar dia mau menikah dengan teman sekelasnya. Kaget, panik, mengira-ngira siapa yang dia tiru, bahkan berusaha mengingat-ingat pelajaran Psikologi Perkembangan anak usia balita, rasanya kok gak ingat pernah disinggung tentang anak balita bicara soal pernikahan..
Tapi ketika kita tidak langsung menghakimi, melainkan justru menggali apa yang dia maksudkan, seberapa jauh pemahamannya tentang pacaran dan pernikahan, kita justru sadar bahwa tidak perlu ada yang dikuatirkan.
Yakobus 1:19-20 (TB) Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
James 1:19-20 (ESV) Know this, my beloved brothers: let every person be quick to hear, slow to speak, slow to anger;
for the anger of man does not produce the righteousness of God.
http://www.bibleforandroid.com/v/7515ddb1ad2c