Tidak, Terima Kasih

Copas dari SABDA:
e-HUMOR - "Tidak, Terima Kasih"
Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko. Ia mengambil peti  minuman dan mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik  ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan  leluasa. Ditekannya 7 digit angka. Si pemilik toko mengamati-amati  tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya.
Bocah: Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman  ibu?
Ibu (di ujung telepon sebelah sana): Saya sudah punya orang untuk  mengerjakannya.
Bocah: Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu.
Ibu: Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu.
Bocah (dengan sedikit memaksa): Saya juga akan menyapu pinggiran  trotoar ibu dan saya jamin di hari Minggu, halaman rumah ibu akan jadi  yang tercantik di antara rumah-rumah yang berada di kompleks perumahan  ibu.
Ibu: Tidak, terima kasih.
Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon.  Si pemilik toko, yang sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.
Pemilik toko: Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin  menawarkanmu pekerjaan.
Bocah: Tidak, terima kasih.
Pemilik toko: Tapi, tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan  pekerjaan.
Bocah: Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah  bagus. Sayalah yang bekerja untuk ibu tadi! (/humor_2086 - Arsip)

Baca: 1 Korintus 3:14
'Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat  upah.' (/ayat_1 Korintus_3ay14)
***
Dalam manajemen kita belajar mengenai POAC.
1. Planning, merencanakan.
2. Organizing, menyiapkan.
3. Actuating, menjalankan.
4. Controlling, mengendalikan/mengevaluasi.
Controlling seringkali terlewatkan, bahkan jika dilakukan pun bentuknya adalah rapat evaluasi yang isinya bisa jadi saling menyalahkan, ataupun dibahas dan dicatat dalam notula tapi dilirik pun tidak waktu merencanakan acara/projek serupa selanjutnya.
Sesungguhnya ada juga yang takut melakukan evaluasi, karena dengan demikian ia harus membongkar kesalahan atau kekurangan dan mengakuinya. Sementara banyak orang dewasa yang kuatir atau takut mengevaluasi diri, si anak kecil dalam cerita dengan gagah berani membuktikan kerjanya dilakukan dengan standar kualitas yang tinggi. Ini sikap luar biasa yang patut ditiru.

Comments