Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan

24 Juni 2020

Memenuhi Kebutuhan

Kita punya banyaaaaak kebutuhan dalam hidup. Sepanjang hidup, kita selalu berusaha memenuhi kebutuhan2 tsb. Kerja jauh dari rumah dan dapat uang segunung, tetap gak bahagia, ternyata karena kebutuhannya ternyata bukan (hanya) uang. Udah kawin, kemudian cerai. Banyak alasannya, panjang ceritanya. Ternyata, intinya adalah ada kebutuhan yang tidak terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhan yang menjadi biang masalah akan susah terungkap tapi justru gejala dan kejadiannyalah yang panjang dan diulang-ulang.
Masalah klasik dari umat manusia adalah ia bisa melihat hal kecil di kawannya tapi tak bisa melihat hal besar pada dirinya sendiri. Ia bisa menganalisis, mengomentari, mengkritik orang lain tapi cenderung tak mengenal dirinya sendiri. Banyak orang tak tahu apa yang dibutuhkannya. Kalaupun tahu, ia tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhannya supaya kebutuhannya itu terpenuhi.
Dimana ada masalah, di situ ada peluang. Di sinilah peluang bagi konselor, psikolog, pekerja sosial, membantu klien atau konseli mengenali kebutuhannya dan mengkomunikasikan bagaimana supaya kebutuhannya terpenuhi.

29 Agustus 2018

Perjuangan

Hari Selasa pagi, 28 Agustus 2018.
Saat dibangunin, Bhima mengeluh "Aku masih capek". Seperti hari-hari sebelumnya, alasannya masih sama. Biasanya aku bilang, "Capek boleh, sakit boleh, tapi jangan malas."
Tapi hari ini aku pakai jurus lain.
(Bhima mulai melek dan bangun dari tempat tidur dengan wajah cemberut)
Kamu harus berjuang melawan rasa capekmu, nak. Kamu tahu gak, tokoh-tokoh dunia, bukan cuma yang di Indonesia tapi dari seluruh dunia, itu dikenang karena apanya? Kelahirannya? Bukan. Pernikahannya? Bukan. Tapi karena perjuangannya.
Contohnya Mahatma Gandhi. Dari mana dia? India.. Namanya Mahatma. Maha atma. Jiwa besar..
(Sampai sini ia mulai tertarik dan senyum-senyum)
Perjuangan Mahatma Gandhi adalah melawan pemerintah yang kasar. Dia berjuang dengan cara apa? Gak tahu, kata Bhima sambil menunggu..
Dia melawan dengan cara tanpa kekerasan. Jadi waktu dikatain, dia gak membalas, dia diem aja. Waktu dipukul juga gitu, dia gak membalas. Dia melawan pemerintah yang kasar dengan cara tanpa kekerasan.
Selain itu, dia juga melawan dirinya sendiri. Waktu dikatain atau dipukul, tentu ia pengen membalas. Tapi dia tidak membalas.
Eh tau gak Mahatma Gandhi itu kagum sama siapa? Sama Tuhan Yesus!
Whaaaat? Bhima melongo.
Iya, Tuhan Yesus mengajarkan apa coba? Kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri. Jadi Bapak, Bhima, Ibu, harus mengasihi orang lain seperti apa? Seperti kita mengasihi diri kita sendiri.
Terus kata Tuhan Yesus lagi, berdoalah untuk mereka yang menganiaya kamu. Nah, mungkin inilah yang membuat Mahatma Gandhi tidak melawan waktu ia dikata-katain bahkan waktu ia dipukul..
Waktu bercerita selesai!
Bhima sudah selesai mandi, sesudah itu sarapan, dan siap berangkat ke sekolah.
Suatu hari nanti aku akan ceritakan tokoh-tokoh dunia yang lain..

No WA Tiyo

Halo! Posting ini saya buat karena saat chatting di Marketplace seperti Tokopedia dan Shopee tidak boleh mengirim no kontak HP/WhatsApp. Jad...