Buat apa?

Kita punya harapan, impian, cita2. Seringkali harapan yang paling sederhana (dan egosentris) adalah berharap punya uang banyak. Boleh jadi itu harapan kebanyakan orang, setidaknya di Indonesia. Terlepas dari salah atau benarnya punya harapan seperti itu, terbayang dialog imajiner kita dengan Tuhan yang akan mengajukan pertanyaan2 berikut ini seperti waktu kita minta uang dalam jumlah besar pada orangtua:
"Kamu butuh berapa, nak?"
"Untuk apa jumlah sebanyak itu?"
"Coba dipikir ulang itu keinginan atau kebutuhan.."
"Kamu yakin kamu akan digunakan untuk yang kamu butuhkan itu?"
"Kamu yakin tidak pakai untuk yang enggak2?"
"Kapan kamu butuhnya?"
"Apa gak bisa ditunda?"
"Apa gak bisa dengan cara lain?"
Dst..
Bukannya Tuhan tidak sanggup memberi, berapapun, kapanpu, dan kepada siapapun, tapi apakah kita punya tujuan yang benar dan baik dengan berkat yang akan kita terima, apakah kita siap mengelola dan mempertanggungjawabkan berkat yang kita terima?
Kalau kita minta berkat (dalam arti materi) yang berlimpah tapi kita tidak mau jadi saluran berkat, kalau kita minta kesehatan tapi tak mau melayani sesama, kalau kita meminta ketrampilan tertentu (bermain musik, public speaking, menjahit, memimpin, apapun) tapi hanya untuk diri sendiri, kita perlu memikirkan ulang apa yang kita minta pada Tuhan.

Comments